Ads 468x60px

Jumat, 27 April 2012

Download Dauroh Manzhumah Al Qawa’id Al Fiqhiyyah di Makassar (06-08/04/2012)



Berikut tautan unduh rekaman Daurah Kaidah-kaidah Penting dalam Ilmu Fiqih (Pembahasan Manzhumah Al-Qawa`id Al-Fiqhiyyah Karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’dy rahimahullah) yang diselenggarakan di Ma’had As-Sunnah Makassar selama 3 Hari: 14-16 Jumadil Awal 1433 / 6-8 April 2012. Semoga bermanfaat.

Hakikat Harut dan Marut


Allah ta'ala berfirman :


وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaithan-syaithan pada masa kerajaan Sulaiman. (Dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaithan-syaithanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir".

Rabu, 25 April 2012

Dauroh Ilmiyah Nasional 1433H/2012M


INSYA ALLAH KEMBALI HADIR
TABLIGH AKBAR NASIONAL
AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH 1433H/2012M
Tema:
KEINDAHAN AGAMA ISLAM
Pembicara:
1.Asy Syaikh ‘Ubaid bin Abdillah al-Jabiri (Madinah)
2. Asy Syaikh ‘Abdullah bin Umar al-Mar’ie (Yaman)
3. Asy Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri (Kuwait)
4. Asy Syaikh Muhammad Ghalib al-’Umari (Madinah)

Waktu:
Sabtu-Ahad, 3-4 Sya’ban 1433H/23-24 Juni 2012M
Pukul 09.00 WIB-selesai
Tempat:
Masjid Agung Manunggal
Jl. Jend. Sudirman No.1 Bantul, DI. Yogyakarta
Kontak Informasi:
Kajian Umum: 0274-7453237
Kajian Asatidz: 081328022770
Informasi Umum: 085747566736


Diselenggarakan Oleh:
Panitia Dauroh Ilmiyah Nasional
Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Jl. Godean Km.5 Gg. Kenanga, Patran RT.01/01
Banyuraden, Gamping, Sleman, DI. Yogyakarta
LIVE! tabligh akbar ini dapat didengarkan di www.salafy.or.id




Selasa, 24 April 2012

Biografi Mufti Saudi Saat Ini



SYAIKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH ALU SYAIKH HAFIDHAHULLAHU TA’ALA

NASAB BELIAU

Beliau adalah Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Lathif  bin Abdurrahman bin Hasan bin Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Biografi Syaikh Shalih Al Fauzan



Beliau adalah yang mulia Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidhahullah. Beliau berasal dari Alu Fauzan, penduduk Asy Syamasiyyah (sebuah daerah di sebelah timur propinsi Al Qashim, Arab Saudi), generasi Al Wadda’in dari kabilah Ad Dawasir.

Mengubur Ular yang Sudah Mati




Pertanyaan : 

Saya ingin bertanya kepada anda tentang binatang berbisa seperti ular dan binatang merayap lainnya. Jika Alloh mentakdirkan saya untuk membunuh hewan tersebut, apakah kemudian saya harus menguburnya ataukah meninggalkannya begitu saja di atas tanah?

Senin, 23 April 2012

Rekaman Tabligh Akbar “Menggapai Kebahagiaan dengan Islam”

Alhamdulillah, Tabligh Akbar pada hari Sabtu tgl 29 Jumadil Awwal 1433H / 21 April 2012 telah dilaksanakan dengan lancar. Kajian tersebut disampaikan oleh Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed hafidhahullah dengan tema “Menggapai Kabahagiaan dengan Islam.” 

Minggu, 22 April 2012

Membaca Al Fatihah Setelah Al Fatihah dalam Shalat



Bismillahirrahmanirrahim. Merupakan perkara yang telah diketahui bersama bahwa dalam shalat, pada raka'at pertama dan kedua setelah membaca Al Fatihah kita dianjurkan untuk membaca surat atau beberapa ayat lain dari Al Qur'an. Namun bagaimana dengan seseorang yang  setelah membaca Al Fatihah dia sengaja  membaca Al Fatihah kembali? Berikut fatwa yang berkenaan dengan hal ini dari Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al 'Ilmiyyah wa Al Ifta' (Lembaga Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) Arab Saudi :

Pertanyaan :
Apa hukum Islam tentang seorang imam yang membaca Al Fatihah dua kali (diulang dalam satu raka'at) pada shalat 'Id atau shalat Jum'at?

Jawaban :
Tidak boleh sengaja membaca Al Fatihah dua kali, baik itu pada shalat 'Id, shalat Jum'at, maupun shalat-shalat yang lainnya karena hal itu tidaklah datang dari Al Musthafa (Rasulullah) shallallahu 'alaihi wa sallam. Sungguh beliau shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda :

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan ( sesuatu hal baru ) dalam urusan ( agama ) kami yang ( sebelumnya ) tidak pernah ada, maka akan ditolak.”

Hadits tersebut telah disepakati akan keshahihannya.
Akan tetapi (imam yang melakukan hal itu) shalatnya sah. Sudah sepantasnya dia dinasehati untuk meninggalkannya agar tidak melakukannya kembali pada shalat yang lain.
Wabillahit taufiq, wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

(Fatawa Al Lajnah Ad Daimah 8/276)

Minggu, 08 April 2012

Info Web Pribadi Ustadz Dzulqarnain


Bismillah. Alhamdulillah telah hadir laman pribadi Al-Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi : www.dzulqarnain.net, yang merupakan media dakwah Ahlus Sunnah guna mendidik umat kepada dan jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lurus dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paripurna.
Laman ini menyajikan berbagai informasi menarik:
  • Pelajaran, berisi kumpulan pelajaran yang pernah disampaikan, baik yang disampaikan pada pelajaran rutin maupun pada kajian, daurah, dan tabligh akbar. Pelajaran tersebut dapat diunduh.
  • Tulisan, memuat resensi dan materi pilihan dari tulisan-tulisan beliau yang telah diterbitkan.
  • Khutbah, menampung khutbah berformat audio dan tulisan, baik khutbah Jum’at maupun khutbah ‘Id.
  • Makalah, menampilkan berbagai artikel ilmiah ringkas, baik yang telah maupun belum pernah dipublikasikan.
  • Tanya Jawab, mencantumkan tanya-jawab yang berasal dari milis An-Nashihah dan beberapa majalah Islam yang memuat jawaban beliau.
  • Doa dan Dzikir, berisi risalah seputar doa dan dzikir yang akan dimuat secara bersambung.
  • Al-Asma` Al-Husna, menampilkan risalah tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah yang juga akan dihadirkan secara bersambung.
  • Lembaran Hikmah dan Aqidah Salaf, menyajikan lembaran ilmiah berformat pdf yang dapat diunduh.
  • Agenda, memuat dokumentasi serta jadwal kajian, daurah, dan tabligh akbar yang beliau isi.
  • Mutiara Hikmah, menampilkan ayat-ayat nasihat, hadits Rasulullah, dan kalam ulama yang bisa menjadi bahan renungan & muhasabah.

Jumat, 06 April 2012

Shalat di Atas Tempat Tidur



Pertanyaan : 
Assalamualaikum. Bolehkah kita shalat di atas meja atau di tempat tidur karena khawatir lantai terkena najis?

Jawaban : 
Bismillahirrahmanirrahim. Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
Shalat di atas tempat tidur adalah perkara yang diperbolehkan. Berkaitan dengan bolehnya hal tersebut, Al Imam Al Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab dalam Shahih beliau berjudul :
باب الصَّلاَةِ عَلَى الْفِرَاشِ
"Bab Tentang Shalat di Atas Tempat Tidur"
Kemudian beliau menyebutkan atsar dan beberapa hadits dengan sanadnya yang menjelaskan bahwa Anas radhiallahu 'anhu, begitu juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat di atas tempat tidur.
Namun dalam hal ini para ulama memberikan syarat, yaitu seseorang bisa melakukan sujud dengan kokoh ketika itu.
Syaikh Shalih Al Fauzan hafidhahullah, anggota Haiah Kibaril Ulama (Lembaga Ulama Senior) Arab Saudi dan Al Lajnah Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyyah wal Ifta (Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) Arab Saudi pernah ditanya :
Apakah boleh melakukan shalat di tempat yang lebih tinggi dari lantai, seperti tempat tidur dan yang semisalnya karena seseorang ragu akan kesucian lantai tersebut, dalam keadaan dia tidak memiliki udzur seperti sakit dan yang semisalnya?
Beliau hafidhahullah menjawab :
Tidak mengapa seseorang shalat di atas sesuatu yang tinggi seperti tempat tidur atau yang semisalnya jika sesuatu itu suci dan posisinya kokoh, tidak menimbulkan goncangan dan gangguan terhadapnya. (Al Muntaqa Min Fatawa Asy Syaikh Shalih Al Fauzan 2/143)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah ditanya :
Akhir-akhir ini telah beredar banyaknya karpet-karpet masjid yang baru atau diperbaharui dengan busa putih yang padat, diletakkan di bawah sajadah-sajadah tempat shalat. Hal itu menjadikan orang yang berjalan di atasnya seperti berjalan di atas tanah yang lembek sekali, juga menjadikan orang yang sujud tidak bisa meletakkan dahi, hidung, dan kedua lututnya dengan kokoh ketika sujud. Kami mengharap dari anda penjelasan hukum tentang hal ini, di mana hal ini telah tersebar di masjid-masjid, dan kadang karpet-karpet yang lama juga diangkat dan diganti dengan yang baru bersama dengan adanya tambahan busa-busa tersebut.
Beliau rahimahullah menjawab :
Jika busa itu tipis dan tertekan ketika ada yang sujud di atasnya, maka tidak mengapa. Tetapi lebih baik ditinggalkan agar orang-orang tidak berbangga-bangga dengannya.
 (Majmu' Fatawa wa Rasa'il Al 'Utsaimin 13/184)
Adapun shalat di atas meja, maka hukumnya sama dengan shalat di atas tempat tidur.
Wabillahit taufiq, wa shallallahu wa sallam 'ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Tabir Pembatas di Dalam Masjid


Bismillahirrahmanirrahim. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya berkaitan dengan masalah tabir di dalam masjid. Berikut terjemah pertanyaannya beserta jawaban dari beliau :

Pertanyaan :

Di tempat kami ada sebuah masjid yang di dalamnya ada bagian khusus untuk perempuan yang terpisah dengan dinding dari tempat laki-laki. Di bagian khusus tersebut ada pengeras suara untuk mendengarkan suara imam dan pengajar. Ada seseorang yang ingin merobohkan dinding tersebut agar jama'ah perempuan tidak berada di samping jama'ah laki-laki. Dalam hal ini dia berdalil dengan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :

تَصِفُّ الرِّجَالُ ثُمَّ الصِّبْيَانُ ثُمَّ النِّسَاءُ

"Para lelaki bershaf, kemudian anak-anak, kemudian para perempuan." (1)
Karena hal itu, timbullah perselisihan yang sengit. Maka, apa bimbingan anda? Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.(2)

Jawaban :
Semua hal itu tidak mengapa. Dahulu para perempuan di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat di belakang jama'ah laki-laki tanpa dipisah dengan dinding atau apapun. Namun para perempuan tersebut berhijab. Sebagaimana di dalam hadits shahih,  Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
"Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depan, dan sejelek-jeleknya  adalah yang paling belakang. Sedangkan sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling belakang, dan sejelek-jeleknya adalah yang paling depan."(3)

Hal tersebut karena shaf perempuan yang paling depan kadang dekat dengan shaf laki-laki. Jika mereka shalat di bagian belakang masjid setelah shaf laki-laki, dan mereka berhijab, maka tidak mengapa, dan tidak butuh dinding atau yang lainnya. Namun jika dibuat dinding atau penutup lain sehingga para perempuan bisa leluasa, membuka penutup wajah mereka dan beristirahat, maka hal tersebut tidak masalah. Mereka bisa mendengar suara imam dari pengeras suara atau tanpa pengeras suara jika mereka memang bisa mendengar suara imam tanpa alat itu. Hal tersebut tidak mengapa, perkara ini luas walhamdulillah. Jika dibuat jendela yang dengannya imam dan ma'mum laki-laki bisa terlihat, dan suara imam terdengar, hal tersebut juga tidak masalah. Semua perkara dalam hal ini ada keleluasaan, tidak sepantasnya bersikap keras dalam masalah ini. Ada dinding, jendela, atau penutup yang lain, atau tanpa adanya semua itu semuanya bagus dan boleh. Walhamdulillah.
-------------------------------
1)  Dikeluarkan oleh Ath Thabarani dalam Al Mu'jam Al Kabir Mu'jam Al Harits Abu Malik Al Asy'ari, Syahr bin Husyab dari Abu Malik Al Asy'ari jilid 3 hal. 291, nomor 3436.
2)   Pertanyaan ke-34 dari kaset nomor 256.
3)  Dikeluarkan oleh Muslim dalam Kitabush Shalat, bab Taswiyah Ash Shufuf wa Iqamatuha wa Fadhl Al Awwal fal Awwal minha, wal Izdiham 'ala Ash Shaf Al Awwal wal  Musabaqah Ilaiha, wa Taqdim Ulil Fadhl wa Taqribihim minal Imam, nomor 440.
(Fatawa Nur 'Ala Ad Darb Li Ibni Baz Bi'Inayah Asy Syuwai'ir 12/267-269)
Pertanyaan :

Orang-orang berpendapat bahwa zaman sekarang tidak seperti zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, jadi harus ada tabir dan penghalang di masjid sehingga para lelaki tidak bisa melihat para perempuan.(1)

Jawaban :

Jika para perempuan tersebut karena kebiasaan mereka di sebagian negeri tidak berhijab, harus ada dinding atau tabir itu. Adapun jika mereka perhatian terhadap masalah hijab dan menutup tubuh mereka dengan baik sebagaimana di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu, maka tidak butuh tabir di masjid. Mereka shalat di belakang jama'ah laki-laki. Sebaik-baik shaf mereka adalah yang paling belakang, dan sejelek-jeleknya adalah yang paling depan. Tetapi jika mereka memiliki kebiasaan bermudah-mudahan dan membuka wajah, maka adanya tabir yang menutupi mereka di dalam masjid adalah perkara yang wajib, sehingga mereka tidak menimbulkan fitnah bagi yang lain dan juga tidak ditimpa fitnah.
-------------------------
1)    Pertanyaan ke-35 dari kaset nomor 256.
(Fatawa Nur 'Ala Ad Darb Li Ibni Baz Bi'Inayah Asy Syuwai'ir 12/269-270)
Dari fatwa Syaikh bin Baz rahimahullah di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa jika kebiasaan para perempuan di suatu daerah adalah tidak perhatian dengan hijab, maka adanya tabir pemisah di masjid adalah wajib. Jika masjid tempat kita shalat tidak ada tabirnya atau tabirnya dipotong sehingga antara jama'ah lelaki dan perempuan bisa saling melihat, maka hendaknya kita memberi nasihat kepada ta'mir masjid tersebut dengan cara yang baik. Jika mereka menerima, walhamdulillah. Jika tidak, maka kewajiban kita untuk amar ma'ruf nahi mungkar dalam hal itu telah gugur.
Adapun tentang hukum shalat di masjid yang seperti itu, maka hukumnya sah karena tidak termasuk syarat sahnya shalat adanya tabir pemisah antara shaf laki-laki dan perempuan.

Wabillahit taufiq, wa shallallahu wa sallam 'ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.