Ads 468x60px

Kamis, 26 Januari 2012

Yahudi & Nasrani Dapat Masuk Surga?

Pertanyaan :
Orang yang mengikuti jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya (salafush sholih) inilah yang selamat dari neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan; satu golongan masuk surga, 70 golongan masuk neraka. Nashrani terpecah menjadi 72 golongan; satu golongan masuk surga, 71 golongan masuk neraka. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan; satu golongan masuk surga dan 72 golongan masuk neraka. Ada sahabat yang bertanya,’Wahai Rasulullah! Siapa mereka yang masuk surga itu?’ Beliau menjawab, ‘Mereka adalah Al-Jama’ah‘.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, dishahihkan Syaikh Al Albani). Dalam riwayat lain para sahabat bertanya,’Siapakah mereka wahai Rasulullah?‘ Beliau menjawab,‘Orang yang mengikuti jalan hidupku dan para sahabatku.‘ (HR. Tirmidzi).
Apa benar Yahudi & Nasrani juga ada yang masuk surga? Bukankah selain agama islam itu akan masuk neraka, bahkan juga tidak di hisab? Lalu Yahudi & Nasrani yang seperti apa yang dapat masuk surga?

Jawaban :
Bismillahirrahmanirrahim. Ya, benar bahwa Yahudi dan Nasrani juga ada yang masuk surga. Yahudi yang masuk surga adalah mereka yang taat kepada nabi-nabi mereka di zaman mereka. Misalnya adalah para pengikut nabi Musa 'alaihis salam. Nasrani yang masuk surga adalah mereka yang taat kepada nabi 'Isa alaihis salam di zaman beliau. Adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, Yahudi dan Nasrani yang bisa masuk surga adalah mereka yang taat kepada beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan kata lain, mereka yang masuk Islam dan baik keislamannya. Allah ta'ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al Baqarah : 62).

Seorang ahli tafsir dari kalangan Tabi'in bernama Qatadah rahimahullah berkata menafsirkan makna Shabiin : 

قوم يقرءون الزبور ويعبدون الملائكة ويصلون إلى الكعبة ويقرون بالله تعالى أخذوا من كل دين شيئا

"Mereka adalah suatu kaum yang membaca kitab Zabur, beribadah kepada Malaikat, shalat menghadap Ka'bah, dan mengakui adanya Alloh ta'ala. Mereka mengambil sesuatu dari setiap agama." (Tafsir Al Baghawi).
Adapun orang Yahudi dan Nashrani yang tidak mau beriman kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mendustakan dan bahkan mempermainkan ayat-ayat Alloh dan merubah kitab suci nabi mereka, mereka tidak akan masuk surga. Alloh ta'ala menjelaskan :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (Al Baqarah : 39).

وَقَالُوا لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَّعْدُودَةً ۚ قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِندَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَن يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ ۖ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
"Dan mereka (orang-orang Yahudi) berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kalian menerima janji dari Alloh sehingga Alloh tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kalian hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (Al Baqarah : 80).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
ولو كان موسى حيا ما وسعه إلا اتباعي. رواه أحمد والبيهقي في كتاب شعب الإيمان، وهو حديث حسن.
"Seandainya Musa masih hidup, dia tidaklah memiliki keleluasaan kecuali harus mengikutiku." (Hadits riwayat Ahmad dan Al Baihaqi dalam kitab Syu'abul Iman, dari hadits Jabir radhiallahu 'anhu. Hadits tersebut adalah hadits hasan.)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi yang masih hidup setelah diutusnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wajib untuk beriman kepada beliau, wajib untuk masuk Islam. Karena nabi mereka saja (yaitu Nabi Musa) seandainya masih hidup di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wajib untuk mengikuti beliau.

Dakwah yang dahulu dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap orang-orang Yahudi dan Nashrani menunjukkan bahwa jika mereka tetap berada pada agama mereka yang dahulu, berarti mereka berada di atas kebatilan, dan tidak akan masuk surga.

Wabillahit taufiq, wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.





  


Rabu, 18 Januari 2012

Kisah Taubat Orang yang Menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah-


Mufti pertama Kerajaan Arab Saudi yang bernama Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (wafat 1389 H) rahimahullah mengatakan:
“Aku sekarang akan menyebutkan sebuah kisah tentang Abdurrahman al-Bakri, salah seorang penduduk Najd.
Pada mulanya ia adalah seorang thalibul ‘ilmi (penuntut ilmu) yang belajar pada pamannya, yaitu Syaikh Abdullah bin Abdullathif Alu Syaikh dan para Syaikh yang lain. Kemudian beliau ingin membuka madrasah di Aman.
Di sana beliau mengajarkan Tauhid dari biaya sendiri. Apabila harta yang dimilikinya telah habis, maka beliau mengambil barang dagangan dari seseorang dan pergi ke India. Terkadang beliau menghabiskan waktu selama setengah tahun di India.
Syaikh al-Bakri mengatakan :
“Aku pernah berada di sisi sebuah masjid di India. Di sana terdapat seorang guru, yang mana apabila seusai mengajar mereka melaknat Ibnu Abdul Wahhab, yakni Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Apabila keluar masjid beliau melewatiku. Dan ia mengatakan:
“Aku bisa berbahasa arab, akan tetapi aku ingin mendengarnya dari Orang Arab.” Lalu iapun minum air dingin di tempatku.
Aku merasa sedih dengan apa yang telah dia lakukan dalam ceramahnya. Lalu aku berbuat siasat dengan mengundangnya (ke tempatku) dan aku mengambil kitab at-Tauhid, aku cabut sampulnya dan aku letakkan di rak dalam rumahku sebelum dia datang.
Ketika dia telah hadir, aku berkata kepadanya : “Apakah anda mengizinkan aku untuk membawakan semangka (ke sini) ?”. Lalu akupun pergi.
Ketika aku kembali ternyata dia sedang membaca buku tersebut dan menggerak-gerakkan kepalanya.
Ia berkata : “Karya siapakah kitab ini? Judul-judulnya mirip dengan judul-judul kitab al-Bukhari, ini demi Allah judul-judul al-Bukhari.”
Aku menjawab : “Aku tidak tahu!”. Lalu aku katakan kepadanya: “Bagaimana  sekiranya kita pergi ke Syaikh al-Ghazawi untuk menanyakan masalah ini,” yang mana beliau adalah seorang pemilik perpustakaan, dan beliau telah memiliki bantahan terhadap kitab Jami’ al Bayan.
Lalu kami pun masuk kepada beliau dan aku berkata kepada al-Ghazawi: “Aku memiliki beberapa lembaran. Syaikh ini menanyakan kepadaku siapakah yang menulis kitab ini ? akupun tidak tahu.”
Al-Ghazawi paham dengan keinginanku. Lalu beliau memerintahkan seseorang untuk mendatangkan kitab Majmu’ah at-Tauhid (kumpulan kitab tauhid), lalu dibawakan kepada beliau, kemudian mencocokkan antara keduanya, lalu beliau mengatakan : “Ini adalah karya Muhammad bin Abdul Wahhab.”
Orang Alim dari India tadi marah dan mengatakan dengan suara yang tinggi:  Orang Kafir itu….!!!!!!”
Kamipun diam, diapun lalu diam sejenak. Sesaat kemudian kemarahannya mereda dan iapun beristirja’ (mengucapkan innalillah wa inna ilaihi raaji’un).
Ia berkata: “apabila kitab ini adalah karya beliau, maka sungguh kami telah menzhaliminya”.
Kemudian beliaupun setiap hari mendoakan untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan murid-muridnya pun juga mendoakan bersamanya.
Lalu tersebarlah murid-muridnya di India. Apabila mereka selesai membaca, mereka semuanya mendoakan untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.”

Sumber : [Fatawa wa Rasa'il asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh 1/75-76, sebagaimana dalam kitab 'Inayah al-'Ulama bi Kitab at-Tauhid, Hal.44, karya Abdul Ilah bin Utsman asy-Syayi', Dar Thaibah. Cet.1, 1422 H, Riyadh]

Kesesatan Harun Yahya

Harun Yahya adalah nama pena Adnan Oktar (juga ditulis Adnan Hoca) dilahirkan di Ankara pada tahun 1956, menetap disana sampai pindah ke Istanbul pada tahun 1979. Sebagian kaum muslimin sudah tidak asing lagi dengan nama ini. Namun, bagaimana sebenarnya kelurusan orang ini di dalam beragama? Mari kita simak :
  1. Harun Yahya mengakui bahwa pengetahuannya dalam bahasa Arab tidak melebihi beberapa kata.
  2. Kebanyakan buku-bukunya bukan hasil karyanya sendiri, tapi dari orang-orang majhul (tidak dikenal kepribadian mereka) yang bekerja di bawah pengawasan dan namanya. Orang-orang yang membiayai penyebaran buku-bukunya secara gratis adalah teman-temannya yang  juga tidak dikenal kepribadian mereka. Mereka adalah para pengusaha kaya dari Turki.
  3. Dia menyebutkan di situsnya yang berbahasa Inggris bahwa Ahlus Sunnah adalah Al Asya'irah dan Al Maturidiyyah.
  4. Ketika menjelaskan tentang aqidah Ahlus Sunnah, dia juga menyebutkan bahwa Wahhabiyyah  menyelisihi Ahlus Sunnah dalam aqidah  mereka tentang syafaat.
  5. Dia menganggap Ibnu 'Arabi yang sesat sebagai seorang guru. Kadang-kadang diapun menyebutkan perkataan-perkataannya dalam sebagian materi.
  6. Dia juga memiliki keyakinan Shufiyyah yaitu Wihdatul Wujud, bahwa sesuatu yang ada pada hakikatnya adalah Allah, sedangkan segala sesuatu yang kita lihat seperti mobil, kursi, dan rumah hanyalah gambaran dalam pikiran kita dan tidak nyata. Hal ini banyak dijumpai di buku-bukunya.
Silakan buka link berbahasa Inggris ini untuk membaca artikel tentang sebagian akidahnya yang telah dijelaskan di atas :


sumber : http://173.193.223.234/showthread.php?t=48379

Hukum Tidur Tengkurap


Hadits tentang larangan tidur tengkurap datang dari beberapa jalan, dan para ulama berselisih pendapat tentang keshahihan hadits-hadits tersebut. Di antara ulama yang mendha'ifkannya adalah Al Bukhari, Ad Daruquthni, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Rajab rahimahumullah. Sedangkan di antara ulama yang menshahihkan atau menghasankan hadits-hadits tersebut adalah Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah, Syaikh Al Albani rahimahullah, dan Syaikh Abdul Muhsin Al 'Abbad hafidhahullah.
Berikut link yang memuat pembahasan tentang kelemahan hadits-hadits tersebut dari sisi riwayat : http://www.saaid.net/Doat/Zugail/73.htm.
Dan berikut ini link yang memuat pembahasan tentang keshahihan hadits-hadits tersebut (lihat komentar no. 15):
http://ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=5001
Syaikh Bin Baz rahimahullah menyatakan bahwa tidur tengkurap makruh (dibenci) walaupun dhahir hadits menunjukkan keharamannya. Dan sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk tidak tidur dengan cara itu, kecuali dalam keadaan darurat. (Nur 'Ala Ad Darb, kaset 305).
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin rahimahullah berkata :

ذكر العلماء أن المكروه هو ما يثاب تاركه احتسابًا ولا يعاقب فاعله، فالمكروهات هي التي نهى الله عنها ورسوله ولكن النهي لا يصل إلى حد التحريم الذي يمنع منه منعًا باتًّا، فجعل النهي للكراهة، فمن فعل المكروه فإنه لا يعاقب عقوبة فاعل الحرام، ولكن الإصرار على المكروهات وكثرة انتهاك المنهيات والتهاون بها يؤدي إلى رفض الأوامر والنواهي الشرعية، وذلك مما يدل على عدم الاحترام للأدلة والتقيد بما ورد عليه نص، فمع الكثرة والاستمرار قد يستحق العقاب، إلا أن يعفو الله تعالى. والله أعلم. وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم.

"Para ulama menyebutkan bahwa perkara yang makruh adalah perkara yang jika ditinggalkan maka pelakunya tidak mendapat pahala, dan jika dikerjakan maka pelakunya tidak dihukum/diadzab. Perkara-perkara yang makruh adalah perkara-perkara yang dilarang oleh Alloh dan RasulNya shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi larangan ini tidak sampai pada tingkatan haram. Seseorang yang mengerjakan perkara makruh tidak diadzab atau dihukum seperti seseorang yang mengerjakan perkara haram. Tetapi terus-menerus mengerjakan perkara yang makruh, melanggar larangan, dan meremehkannya akan membawa seseorang untuk menolak perintah dan larangan syariat. Hal ini adalah salah satu ciri yang menunjukkan tidak adanya pengagungan dari dirinya terhadap dalil-dalil dan tidak adanya ketundukan terhadap apa yang datang dalam nash. Jika dia sering atau terus-menerus mengerjakan perkara makruh, maka kadang dia berhak mendapatkan hukuman atau 'adzab, kecuali jika Alloh memaafkannya. Wallahu a'lam, wa shallallahu 'ala Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam."
Jika kita mengikuti para ulama yang mendha'ifkan hadits-hadits tentang larangan tidur tengkurap, berarti kita memilih pendapat bolehnya tidur tengkurap dan bahwa tidur dengan cara itu tidak makruh. Maka jika kita tidur tengkurap, kita tidak terkena hukum apa-apa.
Adapun jika kita mengikuti para ulama yang menshahihkan hadits-hadits tentang larangan tidur tengkurap, dan kita mengikuti pendapat ulama yang mengatakan bahwa tidur tengkurap itu makruh, maka ketika kita tidur tengkurap tanpa udzur, berarti kita telah mengerjakan perkara yang makruh. Tetapi kita tidak  berdosa, karena orang yang melakukan perbuatan makruh tidaklah berdosa, sebagaimana definisi dari istilah makruh yang telah disebutkan oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin rahimahullah di atas.
Namun orang yang terus-menerus mengerjakan perkara makruh hendaknya bertanya kepada dirinya sendiri, siapakah yang memakruhkan atau membenci perbuatan itu? Jawabannya tentu : Alloh ta'ala. Lalu kenapa kita terus-menerus mengerjakan 'amalan yang sesuai dengan keridha'an kita tetapi itu dibenci oleh Alloh? Tidakkah kita ingin menjadi hamba yang dicintai oleh Alloh dengan mengerjakan 'amalan-'amalan yang diridhaiNya?
Juga, seseorang yang terbiasa meninggalkan perkara yang mustahab (disunnahkan/disukai) lalu memilih perkara yang makruh, lama kelamaan dia akan mengerjakan perkara yang haram. Kebanyakan orang meninggalkan perkara yang mustahab karena perkara itu tidak cocok dengan hawa nafsu mereka. Sebaliknya, mereka lebih memilih perkara yang makruh karena perkara itu sesuai dengan hawa nafsu mereka. Ketika seseorang sampai pada tingkatan ini, maka dia akan sampai pada tingkatan mengerjakan perkara yang haram.
Adapun tidur telentang, hukumnya makruh ketika dikhawatirkan akan tersingkapnya aurat karena cara tidur ini. Khususnya ketika seseorang meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain ketika tidur telentang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

لا يستلقين أحدكم ، ثم يضع إحدى رجليه على الأخرى

"Janganlah salah seorang di antara kalian tidur telentang kemudian meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain."
(Hadits riwayat Muslim dari Jabir radhiallahu 'anhu). Dalam lafadz At Tirmidzi disebutkan :

إذا استلقى أحدكم على ظهره فلا يضع إحدى رجليه على الأخرى

"Jika salah seorang di antara kalian tidur telentang maka janganlah dia meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain."

Kesimpulan :

Posisi tidur seseorang ada 4 :
1.      Tidur pada bagian tubuh sebelah kanan. Ini adalah tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam shahih Muslim ada sebuah hadits dari Al Barra' bin 'Azib, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
إذا أخذت مضجعك فتوضأ وضوءك للصلاة ثم اضطجع على شقك الأيمن

"Jika engkau hendak tidur, maka berwudhulah seperti wudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah pada sisi tubuhmu yang sebelah kanan."
2.      Tidur pada bagian tubuh sebelah kiri. Ini dibolehkan karena tidak ada nash yang melarangnya. Mayoritas posisi tidur Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah tidur pada bagian tubuh sebelah kanan, sehingga dapat dipastikan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kadang tidur pada bagian tubuh sebelah kiri.
Juga karena Alloh memilih posisi ini sebagai salah satu posisi tidur Ashabul Kahfi, orang-orang beriman yang tertidur selama bertahun-tahun di sebuah gua. Alloh ta'ala berfirman :

وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ
"Dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri." (Al Kahfi : 18).
3.      Adapun tidur tengkurap, telah lewat penjelasannya. Para ulama berselisih tentang hukumnya, apakah haram, makruh, atau boleh.
4.      Sedangkan tidur telentang, hukumnya makruh ketika dikhawatirkan akan tersingkapnya aurat karena cara tidur ini. Khususnya ketika seseorang meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain ketika itu.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang tidur pada bagian tubuh sebelah kanan dan juga sebelah kiri ditinjau dari sisi kesehatan :
وفي اضطجاعه صلى الله عليه وسلم على شقه الأيمن سر، وهو أن القلب معلق في الجانب الأيسر، فإذا نام الرجل على الجنب الأيسر، استثقل نوماً، لأنه يكون في دعة واستراحة، فيثقل نومه، فإذا نام على شقه الأيمن، فإنه يقلق ولا يستغرق في النوم، لقلق القلب، وطلبه مستقره وميله إليه، ولهذا استحب الأطباء النوم على الجانب الأيسر لكمال الراحة وطيب المنام، وصاحب الشرع يستحب النوم على الجنب الأيمن، لئلا يثقل نومه فينام عن قيام الليل، فالنوم على الجانب الأيمن أنفع للقلب ، وعلى الجانب الأيسر أنفع للبدن، والله أعلم، انتهى من زاد المعاد (1/321) وما بعدها.
"Dalam posisi berbaringnya beliau shallallahu 'alaihi wa sallam pada bagian tubuh sebelah kanan ada rahasia, yaitu bahwa jantung akan tergantung pada bagian tubuh sebelah kiri. Jika seseorang tidur pada bagian tubuh sebelah kiri, dia akan tertidur pulas karena jantungnya tenang dan istirahat, sehingga tidurnyapun jadi nyenyak. Namun jika dia tidur pada bagian tubuh sebelah kanan, dia akan merasa gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak karena jantungnya bergerak-gerak dan condong mencari tempat berdiamnya. Oleh karena itu, para dokter menganjurkan agar tidur pada bagian tubuh sebelah kiri karena (dengan posisi ini-pent) akan didapat kenyamanan yang sempurna dan tidur yang enak. Namun Pemilik Syariat ini (Alloh ta'ala-pent) menganjurkan seseorang untuk tidur pada bagian tubuh sebelah kanan agar tidurnya tidak pulas yang bisa menyebabkannya melewatkan shalat malam. Jadi, tidur pada bagian tubuh sebelah kanan lebih bermanfaat untuk jantung, sedangkan tidur pada bagian tubuh sebelah lebih bermanfaat untuk badan. Wallohu a'lam. (Zadul Ma'ad 1/321)
Beliau rahimahullah juga berkata dalam kitab yang sama tentang tidur pada bagian tubuh sebelah kiri, tidur telentang, dan tengkurap dari sisi kesehatan:
 وأردأ النوم النوم على الظهر ولا يضر الاستلقاء عليه للراحة من غير نوم وأردأ منه أن ينام منبطحا على وجهه. زاد المعاد (4/ 219)
" Tidur terburuk adalah tidur dalam posisi telentang. Posisi ini hanya diperkenankan untuk beristirahat dan bukan untuk tidur. Namun demikian dibandingkan dengan posisi tidur telentang, tidur dengan posisi tengkurap adalah posisi tidur yang paling buruk." (Zadul Ma'ad 4/219).
Tidur tengkurap dapat membuat syahwat bergejolak. Juga bisa menyebabkan penyakit pernapasan karena ketika seseorang tidur tengkurap, hidungnya akan sangat dekat dengan karpet atau kasur yang padanya banyak terdapat kuman atau debu.

Selasa, 17 Januari 2012

Hukum Mendengarkan Murattal dari Qari’ Hizbiy


Oleh : Al Ustadz Abul Hasan hafizhahullah

Beliau hafizhahullahu ditanya apa hukumnya mendengarkan murattal (bacaan Al  Quran) dari qari’ hizbiy, seperti Misyari Rasyid Al Afasy yang  mana ia bermanhaj Ikhwanul Muslimin?
Jawaban:
Ahsan dijauhi, masih banyak qari’ dari kalangan Ahlus Sunnah. Namun kalau
dengan mendengarnya tidak menimbulkan mudharat maka tidak mengapa
karena tilawahnya dan qiraahnya sesuai dengan hukum tajwid yang benar,
adapun kalau dirasa hal itu memudharatkan seperti menjadi idola atau
bahkan membuatnya mengikuti manhajnya maka hal ini harus dijauhi.
Di antara kaidah penting dalam hal ini adalah: 

درء المفاسد مقدم على جلب المنافع

"Menolak kerusakan itu lebih didahulukan daripada mengambil
kebaikan/manfaat".
Dengan demikian hal ini dilihat dari sisi apakah dengan mendengarkan bacaannya akan memudharatkan ataukah tidak. Kalau hanya sekedar ingin
mendengarkan bacaannya yang bagus tidak mengapa. Perlu diperhatikan, hendaknya seorang muslim jangan mencari-cari aib dari
saudaranya. Kalau memang ia tidak mengetahui keadaan seseorang jangan
mencari-cari kesalahannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain." (Al Hujuraat: 12)

Adapun kalau memang dia sudah tahu keadaan seseorang maka ditimbang apakah perlu dijauhi atau tidak, sesuai dengan kaidah syar’i.

Wallahu a’lam.
[Dinukil dari sesi tanya jawab kajian rutin Ahlussunnah di Cikarang]

Sumber : http://groups.yahoo.com/group/nashihah/message/5250

Hukum Membuat Dan Menjual Boneka Anak-Anak


Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah, anggota Kibarul Ulama' kerajaan Saudi Arabia, pernah ditanya tentang masalah ini, dan
beliau menjawab sebagai berikut :

"Pengecualian boneka anak-anak dari larangan membuat patung dan gambar benar adanya, akan tetapi yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah: Boneka yang bagaimanakah yang diperkecualikan, apakah boneka yang model dahulu yang notabene tidak sedetail boneka zaman sekarang, dan yang tidak memiliki mata, mulut, hidung sebagaimana yang ada pada boneka yang ada pada zaman sekarang ataukah pengecualiannya mencakup seluruh boneka anak-anak, walaupun seperti yang ada sekarang ini? Permasalahan ini perlu dikaji lebih lanjut, dan kita perlu bersikap hati-hati. Yang lebih selamat adalah menjauhi boneka yang ada zaman sekarang dan mencukupkan diri dengan boneka model zaman dahulu saja."
Wallahu a'alam bisshawab.


HUKUM BONEKA YANG DAPAT BERBICARA DAN MENANGIS

Pertanyaan :
 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ada berbagai macam bentuk boneka, diantaranya boneka yang terbuat dari kapas, yang bentuknya seperti karung yang memiliki kepala, tangan dan kaki, ada pula yang bentuknya sangat mirip dengan manusia, dapat berbicara, menangis atau berjalan layaknya manusia. Apa hukum membuat atau membelikan boneka-boneka semacam itu untuk anak-anak perempuan untuk tujuan pengajaran dan sebagai hiburan?

Jawaban :
Boneka yang bentuk dan wujudnya tidak sempurna dan memiliki beberapa anggota tubuh dann kepala tetapi tidak jelas bentuknya, maka hal itu jelas diperbolehkan dan boneka-boneka seperti itulah yang dimainkan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha.
Sedangkan bila boneka tersebut memiliki bentuk yang sempurna seolah-olah engkau menyaksikan manusia, apalagi boneka itu dapat bergerak atau dapat mengeluarkan suara, aku tidak berani mengatakan bahwa hal itu dibolehkan, karena boneka-boneka itu secara langsung telah menyerupai bentuk makhluk ciptaan Allah. Secara dzahir bahwa boneka yang digunakan oleh Aisyah untuk bermain bukanlah boneka yang memiliki bentuk dan sifat yang demikian, maka menjauhi hal–hal itu adalah lebih utama, akan tetapi aku tidak mengatakan secara langsung bahwa hal itu adalah haram, karena dalam masalah tersebut ada pengecualiaan bagi seorang anak kecil yang tidak memiliki oleh orang-orang dewasa.
Anak kecil cenderung memiliki watak suka bermain dan bersenang-senang, dan mereka tidak dibebani oleh berbagai macam ibadah hingga kita sering berkata bahwa waktu mereka lebih banyak digunakan untuk bermain dan bersenda gurau. Jika seseorang hendak memiliki benda seperti ini, maka hendaklah ia melepas kepala boneka itu atau memanggangnya di atas api hingga boneka itu menjadi lunak kemudian menghimpitnya sehingga tidak terlihat lagi ciri-cirinya.

[Syaikh Ibn Utsamin, Fatawa Al-Aqidah, hal. 684-685]


HUKUM MEMBUAT BONEKA YANG DILAKUKAN OLEH SEORANG ANAK ATAU ORANG DEWASA


Pertanyaan :
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah ada perbedaan antara seorang anak kecil yang membuat sebuah boneka untuk bermain dengan kita yang membuatkan atau membelikan mereka boneka?

Jawaban :
Saya berpendapat bahwa pembuatan boneka yang menyerupai makhluk Allah adalah haram, karena pebuatan itu termasuk dalam perbuatan membuat gambar yang tidak diragukan keharamannya. Akan tetapi bila boneka tersebut dibuat oleh golongan yang bukan muslim, maka hukum manfaatnya sebagaimana yang telah saya sebutkan.

Tetapi daripada kita membeli benda-benda seperti itu, sebaiknya kita membelikan mereka barang seperti sepeda, mobil-mobilan, ayunan atau barang-barang lainnya yang tidak berwujud makhluk bernyawa.
Adapun boneka yang terbuat dari kapas dan boneka-boneka yang bentuknya jelas-jelas memiliki anggota tubuh, kepala dan kaki tetapi tidak memiliki mata dan hidung, maka hal itu tidak dilarang, karena boneka itu tidak memiliki kesurupaan dengan makhluk ciptaan Allah.

[Syaikh Ibn Utsamin, Fatawa Al-Aqidah, hal. 675 ]